Senin, 20 November 2017

Pemimpin dan Integritas




PEMIMPIN dan INTEGRITAS

Sebuah forum pelantikan organisasi dalam lingkup pemerintahan yang baru yang baru-baru ini penulis hadiri sedikit menggelitik rasa keingintahuan penulis untuk membahas lebih mendalam mengenai kata “pemimpin”.





Apakah yang dimaksud dengan pemimpin?


Pemimpin adalah sosok yang begitu diagung-agungkan. Dalam arti luas, pemimpin adalah seseorang yang tampil dari sekolompok orang sebagai pemberi arah dan mengayomi. Sederhananya, pemimpin adalah orang yang membantu diri sendiri dan orang lain melakukan hal yang benar. Pemimpin menciptakan arah tujuan. Pemimpin dapat pula diartikan sebagai seseorang yang menggunakan kemampuannya, sikapnya, nalurinya, dan ciri-ciri kepribadian yang dimilikinya sehingga orang lain yang dipimpinnya dapat saling bekerjasama untuk mencapai tujuan.


Setiap orang adalah pemimpin. Itulah kata yang sering penulis dengar. Pemimpin bagi diri sendiri maupun orang lain.


Dunia perpolitikan tidak lepas dari pemimpin dan orang yang dipimpin. Pemimpin menjadi penguasa yang memberikan arahan terhadap orang yang dipimpinnya dan orang yang dipimpin akan meneruskan arahan itu ke orang yang di bawahnya. Demikianlah hierarki pimpinan.

Menjadi seorang pemimpin bukanlah perkara yang mudah. Setiap orang berpotensi menjadi pemimpin karena masing-masing kita telah diberikan potensi untuk itu. Kita memiliki otak yang luar biasa yang dengannya kita dapat melakukan olah pikiran dan hati sebagai kontrolnya. Namun, ada kalanya potensi-potensi yang diberikan tak digunakan sebagaimana mestinya.


Kita tilik dulu arti kalimat pemimpin bagi “diri sendiri” dan “bagi orang lain”. Pemimpin bagi diri sendiri berarti kita berkuasa atas kehendak yang kita ambil. Seseorang menjadi penentu tindakan atas apa yang akan kita lakukan. Menjadi baik dan buruk itu pun hasil dari mekanisme seseorang memimpin diri sendiri yang terpancar dari kata-kata dan perbuatannya. Sedangkan arti pemimpin bagi “orang lain” berarti menjadi orang yang mengayomi, mengambil keputusan dan bertindak untuk mencapai tujuan tertentu demi kebaikan bersama.


Kita kembali pada beberapa masa silam, dimana islam menjadi contoh yang sangat baik bagi pentas kepemimpinan yang dibawa oleh manusia yang paling mulia, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, the role model terbaik sepanjang masa. Dalam buku Michael Heart “100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia”, Rasulullah menempati posisi pertama. Sebagai seorang yang beragama nonmuslim, Michael Heart tak ragu-ragu memasukkan Rasul ummat muslim ini menjadi role model bagi kepemimpinan yang baik. Mengapa? Karena beliau tidak hanya menjadi pemimpin religius tetapi juga pemimpin sekuler dan pemimpin politik. Tindakan beliau yang menjadi patokan. Beliau memimpin yang mengayomi, mengganggap orang yang dipimpinnya layak mendapatkan kebaikan bahkan di atas kebaikan untuk dirinya sendiri. Beliau adalah sosok pemimpin yang keras bagi diri sendiri dan lemah lembut kepada orang lain. The best creature had been being. Kepemimpinan beliau diikuti oleh pemimpin-pemimpin setelahnya yang tergabung dalam kekhalifaan Khurafaur Rasyiddin. Model kepemimpinan di masa itu menjadi model terbaik yang menunjukan bahwa sosok pemimpin betul-betul adalah orang yang mengayomi dengan penuh rasa kasih sayang tentunya dengan kredibilitas dan integritas yang tinggi.


Well, mari kita melihat apa sih integritas itu? Alfan Alfian (2009) dalam buku “Menjadi Pemimpin Politik” mengungkapkan bahwa Integritas atau integrity berasal dari Bahasa latin, integra, yang berarti menyeluruh, lengkap (komplet), satu. Seseorang yang memiliki integritas mampu memparalelkan atau mengkonsistensikan nilai-nilai kepercayaan, atau ideologi yang diyakininya dengan apa yang ia katakan dan kerjakan. Integritas terjadi tatkala pemikiran = perkataan = perbuatan. Secara sederhana, Integritas adalah suatu sikap dimana pikiran dan perkataan sesuai dengan tindakan. Integritas dapat digambarkan sebagai sebuah rantai lingkaran yang bagiannya tersusun dari ketiga hal tersebut. Tatkala suatu bagian hilang, maka dikatakan bahwa orang tersebut tidak lagi berintegritas. Kesatuan perilaku yang membingkai konsep integritas adalah kejujuran (honesty), ketulusan (sincerity), apa adanya (truthfulness), satu kata dan alasan (keeping one’s word and agreements), ketepatan waktu (punctuality), etika (ethics), kewajaran (fairness), dan keadilan (justice).


Integritas adalah sesuatu yang diperlukan untuk mempercayai seorang pemimpin. Tanpa integritas, seorang pemimpin akan memperoleh krisis kepercayaan dari rakyat. Ryaas Rasyid (2002) dalam kolom opini “menjaga demokrasi dari hasrat Kekuasaan” koran fajar edisi 07 Nopember 2017 memandang bahwa inti pemerintahan ada dua yakni kemepimpinan dan etika. Pemerintahan yang baik sangat ditentukan oleh pemimpin dan etikanya. Etika pemimpin dapat terlihat salah satunya melalui sifat integritas.


Bagaimana dengan pemimpin lini masa? pemimpin (read penguasa) mengalami krisis kepercayaan dari masyarakat. Mereka adalah orang-orang pintar, tahu banyak ilmu. Di antara mereka banyak yang ilmu agamanya bagus, namun masih saja di negeri kita banyak koruptor. Bukan karena mereka tidak paham agama, tapi karena mereka tidak berintegritas. Integritas adalah suatu bagian dari etika yang harus dimiliki oleh pemimpin. Dengan integritas, maka trust dari masyarakat akan meningkat. Trust erat kaitannya dengan pemimpin yang amanah. Pemimpin yang amanah adalah pemegang mandat yang dapat dipercaya. Yang memberi mandat adalah rakyat. Oleh karena itu, trust dari rakyat akan tinggi terhadap pemimpin yang amanah yang hanya dapat diperoleh jika pemimpin tersebut memiliki integritas.


Mutiara Hikmah:

“Di antara sikap moral yang paling penting adalah mempercayai diri sendiri dan membangun kepercayaan dengan orang lain” Mahatma Gandhi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karang Taruna Berbagi

Karang Taruna Berbagi, menjadi tajuk kegiatan Karang Taruna Panakkukang pada hari Ahad,  29 Juli 2018. Kegiatan tersebut  sesuai namanya, me...