PEMIMPIN dan INTEGRITAS
Sebuah forum pelantikan organisasi
dalam lingkup pemerintahan yang baru yang baru-baru ini penulis hadiri sedikit menggelitik rasa keingintahuan penulis untuk membahas lebih mendalam mengenai kata “pemimpin”.
Apakah yang dimaksud dengan pemimpin?
Pemimpin adalah sosok yang begitu diagung-agungkan.
Dalam arti luas, pemimpin adalah seseorang yang tampil dari sekolompok orang
sebagai pemberi arah dan mengayomi. Sederhananya, pemimpin adalah orang yang
membantu diri sendiri dan orang lain melakukan hal yang benar. Pemimpin
menciptakan arah tujuan. Pemimpin dapat pula diartikan sebagai seseorang yang
menggunakan kemampuannya, sikapnya, nalurinya, dan ciri-ciri kepribadian yang
dimilikinya sehingga orang lain yang dipimpinnya dapat saling bekerjasama untuk
mencapai tujuan.
Setiap orang adalah pemimpin. Itulah kata yang sering penulis dengar. Pemimpin bagi diri sendiri maupun orang lain.
Dunia perpolitikan tidak lepas dari
pemimpin dan orang yang dipimpin. Pemimpin menjadi penguasa yang memberikan
arahan terhadap orang yang dipimpinnya dan orang yang dipimpin akan meneruskan
arahan itu ke orang yang di bawahnya. Demikianlah hierarki pimpinan.
Menjadi seorang pemimpin bukanlah
perkara yang mudah. Setiap orang berpotensi menjadi pemimpin karena
masing-masing kita telah diberikan potensi untuk itu. Kita memiliki otak yang
luar biasa yang dengannya kita dapat melakukan olah pikiran dan hati sebagai
kontrolnya. Namun, ada kalanya potensi-potensi yang diberikan tak digunakan
sebagaimana mestinya.
Kita tilik dulu arti kalimat
pemimpin bagi “diri sendiri” dan “bagi orang lain”. Pemimpin bagi diri sendiri
berarti kita berkuasa atas kehendak yang kita ambil. Seseorang menjadi penentu
tindakan atas apa yang akan kita lakukan. Menjadi baik dan buruk itu pun hasil
dari mekanisme seseorang memimpin diri sendiri yang terpancar dari kata-kata
dan perbuatannya. Sedangkan arti pemimpin bagi “orang lain” berarti menjadi
orang yang mengayomi, mengambil keputusan dan bertindak untuk mencapai tujuan
tertentu demi kebaikan bersama.
Kita kembali pada beberapa masa
silam, dimana islam menjadi contoh yang sangat baik bagi pentas kepemimpinan
yang dibawa oleh manusia yang paling mulia, Rasulullah Shallallahu alaihi
wasallam, the role model terbaik
sepanjang masa. Dalam buku Michael Heart “100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia”,
Rasulullah menempati posisi pertama. Sebagai seorang yang beragama nonmuslim,
Michael Heart tak ragu-ragu memasukkan Rasul ummat muslim ini menjadi role model bagi kepemimpinan yang baik.
Mengapa? Karena beliau tidak hanya menjadi pemimpin religius tetapi juga
pemimpin sekuler dan pemimpin politik. Tindakan beliau yang menjadi patokan.
Beliau memimpin yang mengayomi, mengganggap orang yang dipimpinnya layak
mendapatkan kebaikan bahkan di atas kebaikan untuk dirinya sendiri. Beliau
adalah sosok pemimpin yang keras bagi diri sendiri dan lemah lembut kepada
orang lain. The best creature had been
being. Kepemimpinan beliau diikuti oleh pemimpin-pemimpin setelahnya yang
tergabung dalam kekhalifaan Khurafaur Rasyiddin. Model kepemimpinan di masa itu
menjadi model terbaik yang menunjukan bahwa sosok pemimpin betul-betul adalah
orang yang mengayomi dengan penuh rasa kasih sayang tentunya dengan kredibilitas
dan integritas yang tinggi.
Well, mari kita melihat apa sih integritas itu? Alfan Alfian
(2009) dalam buku “Menjadi Pemimpin Politik” mengungkapkan bahwa Integritas
atau integrity berasal dari Bahasa
latin, integra, yang berarti
menyeluruh, lengkap (komplet), satu. Seseorang yang memiliki integritas mampu
memparalelkan atau mengkonsistensikan nilai-nilai kepercayaan, atau ideologi
yang diyakininya dengan apa yang ia katakan dan kerjakan. Integritas terjadi
tatkala pemikiran = perkataan = perbuatan. Secara sederhana, Integritas adalah
suatu sikap dimana pikiran dan perkataan sesuai dengan tindakan. Integritas
dapat digambarkan sebagai sebuah rantai lingkaran yang bagiannya tersusun dari
ketiga hal tersebut. Tatkala suatu bagian hilang, maka dikatakan bahwa orang
tersebut tidak lagi berintegritas. Kesatuan perilaku yang membingkai konsep
integritas adalah kejujuran (honesty),
ketulusan (sincerity), apa adanya (truthfulness), satu kata dan alasan (keeping one’s word and agreements),
ketepatan waktu (punctuality), etika
(ethics), kewajaran (fairness), dan keadilan (justice).
Integritas adalah sesuatu yang
diperlukan untuk mempercayai seorang pemimpin. Tanpa integritas, seorang
pemimpin akan memperoleh krisis kepercayaan dari rakyat. Ryaas Rasyid (2002)
dalam kolom opini “menjaga demokrasi dari hasrat Kekuasaan” koran fajar edisi
07 Nopember 2017 memandang bahwa inti pemerintahan ada dua yakni kemepimpinan
dan etika. Pemerintahan yang baik sangat ditentukan oleh pemimpin dan etikanya.
Etika pemimpin dapat terlihat salah satunya melalui sifat integritas.
Bagaimana dengan pemimpin lini
masa? pemimpin (read penguasa) mengalami krisis kepercayaan dari masyarakat.
Mereka adalah orang-orang pintar, tahu banyak ilmu. Di antara mereka banyak
yang ilmu agamanya bagus, namun masih saja di negeri kita banyak koruptor.
Bukan karena mereka tidak paham agama, tapi karena mereka tidak berintegritas. Integritas
adalah suatu bagian dari etika yang harus dimiliki oleh pemimpin. Dengan
integritas, maka trust dari
masyarakat akan meningkat. Trust erat
kaitannya dengan pemimpin yang amanah. Pemimpin yang amanah adalah pemegang
mandat yang dapat dipercaya. Yang memberi mandat adalah rakyat. Oleh karena
itu, trust dari rakyat akan tinggi
terhadap pemimpin yang amanah yang hanya dapat diperoleh jika pemimpin tersebut
memiliki integritas.
Mutiara Hikmah:
“Di antara sikap moral yang paling penting adalah mempercayai diri
sendiri dan membangun kepercayaan dengan orang lain” Mahatma
Gandhi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar